Jumat, 18 November 2016

Sikap PGI Terhadap Pelanggran HAM di Papua



PGI: Pemerintah Jangan Mengabaikan Fakta Adanya Pelanggaran HAM di Papua


Pemerintah hendaknya jangan mengabaikan fakta adanya pelanggaran HAM di Papua.
JAKARTA,PGI.OR.ID-Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) memahami ketidaksetujuan pemerintah Indonesia terhadap pernyataan tujuh negara di Pasifik yang mengangkat isu pelanggaran HAM di Papua dalam Sidang Umum ke-71 PBB di New York, sebagai bentuk intervensi. Namun, ketidaksetujuan tersebut hendaknya jangan mengabaikan fakta adanya pelanggaran HAM di Papua.
Sekretaris Eksekutif Bidang Keadilan dan Perdamaian PGI Pdt. Henrek Lokra, menyatakan hal tersebut saat jumpa pers di Lantai 3 Grha Oikoumene, Jakarta, Rabu (5/10).
Sejak 1962 sampai hari ini, lanjut Henrek, masih terjadi kasus pelanggaran HAM di Papua, dan hal itu membuat kepercayaan masyarakat Papua terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)  semakin berkurang.
“Dalam kerja-kerja advokasi yang kami lakukan di Papua supaya terus membangun kepercayaan itu, tetapi kalau orang lihat setiap hari terjadi pembunuhan, kemudian aksi demo yang dilakukan cuma segelintir orang tetapi polisi dan aparat keamanan menjaganya dengan jumlah banyak dan dengan persenjataan lengkap laksana sedang berhadapan dengan teroris atau musuh di medan perang, ini fakta-fakta yang akan membuat orang Papua semakin kehilangan kepercayaannya kepada Indonesia,” katanya.
Henrek menambahkan, PGI juga melihat bahwa persoalan HAM adalah persoalan universal.  Karena itu, kita tidak bisa menutup mata terhadap perhatian negara lain, termasuk tujuh negara di Pasifik itu mengenai masalah keamanan yang terjadi di Papua. “Karena ini masalah universal kita tidak bisa melarang negara lain memberi perhatian terhadap pelanggaran HAM, dunia sudah tidak ada batas sehingga orang bisa tahu kapan dan dimana banyak terjadi pelanggaran HAM,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Lingkar Madani (LIMA) Indonesia Ray Rangkuti, menegaskan, pidato balasan diplomat Indonesia terhadap tudingan pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM) yang disampaikan tujuh negara di Pasifik tersebut hanyalah retorika, dan tidak menjawab tudingan tersebut.
“Yang lebih buruk lagi kita menyatakan keberatan negara lain memperbincangkan situasi negara kita. Seharusnya jelaskan saja kebenarannya. Kalau dikatakan hampir 50 tahun terakhir terjadi pelanggaran HAM yang besar di Papua bisa dijelaskan dimana, kapan, bagaimana, dan yang penting setidaknya apa yang telah dilakukan pemerintah Indonesia terkait hal itu. Kita harus jawab dengan data juga. Fakta harus juga dijawab dengan fakta, bukan dijawab dengan retorika,” ujar Ray.
Sumber : http://pgi.or.id/pgi-pemerintah-jangan-mengabaikan-fakta-adanya-pelanggaran-ham-di-papua/

Senin, 29 Februari 2016

PESAN PASKAH 2016 PGI




PESAN PASKAH 2016 

PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA


Tema: “KRISTUS BANGKIT: BERILAH DIRIMU
DIPERDAMAIKAN”
(2 Kor.5:20b)

Umat Kristiani terkasih di manapun Saudara berada.
Salam Sejahtera dalam Yesus Kristus,
“Kristus bangkit! Ya benar, Kristus telah bangkit!”, demikianlah seruan optimistis umat Kristen pada periode mula-mula yang suaranya tetap bergema hingga zaman ini. Kebangkitan Kristus adalah kesaksian iman orang percaya yang mengawali hadirnya gereja dan bahkan mendorong pelayanan dan kesaksian gereja sepanjang masa. Iman kepada Kristus yang bangkit menjadi harapan yang terus menerus mengobarkan semangat gereja untuk mengarungi samudera kehidupan dengan keberanian.
Dalam suasana penuh sukacita memperingati hari raya Paskah, umat Kristen di Indonesia, bahkan di seluruh dunia, diingatkan ulang bahwa kematian dan kebangkitan Kristus adalah prakarsa Allah dalam mendamaikan kita dengan diri-Nya, dan dengan demikian telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kita (2 Kor. 5:18). Karya pendamaian tersebut merangkumi hubungan Allah dengan manusia dan dengan alam semesta (Kol. 1:20). Artinya, keselamatan itu tidak hanya berlaku bagi manusia, tetapi juga bagi seluruh alam semesta. Semua dilakukan-Nya dalam kasih-Nya yang tidak membiarkan manusia dan seluruh ciptaan-Nya binasa.
Paskah selalu membangkitkan pengharapan, kekuatan dan semangat baru bagi kita untuk memberikan diri kita diperdamaikan oleh Allah, dan berdasarkan realita itu, kita dimampukan untuk melanjutkan perjalanan hidup secara harmonis bersama Tuhan, maupun bersama dengan sesame dalam masyarakat, dan dengan seluruh makhluk ciptaan.
Tema “KRISTUS BANGKIT: BERILAH DIRIMU DIPERDAMAIKAN” (2Kor.5:20b) sangat relevan dengan pergumulan Gereja-gereja di Indonesia yang saat ini tengah menghadapi berbagai perubahan dan dinamika. Gereja berada di tengah masyarakat majemuk yang sedang mengalami perubahan yang cepat. Banyak hal menggembirakan yang telah dicapai di tengah perubahan tersebut. Namun tak sedikit juga keprihatinan yang kita hadapi. Salah satu keprihatinan utama adalah konflik yang semakin merebak di tengah masyarakat, yang pada gilirannya merusak relasi antar manusia dan relasi manusia dengan alam. Ada cukup banyak orang yang berjuang keras mengusahakan kepentingan dan kenyamanan pribadi atau kelompoknya, dengan mengabaikan kepentingan orang lain dan acap mengeksploitasi alam tanpa batas. Realitas ini sangat potensial merusak damai sejahtera dalam masyarakat.
Kecenderungan sedemikian juga terjadi di tengah-tengah kehidupan dan pelayanan gereja. Ada gereja-gereja yang mengalami ketidak-harmonisan bahkan perpecahan, karena rusaknya relasi antar warga yang satu dengan yang lain. Pasang-surut relasi kehidupan beragama di Indonesia, sebagaimana peristiwa yang senantiasa berulang pada akhirakhir ini, juga menunjukkan bahwa ada kecenderungan dan keengganan untuk mendengarkan dan memahami berbagai kelompok yang hidup dalam masyarakat. Gaya hidup yang semakin konsumtif tidak jarang menjauhkan manusia yang satu dari yang lain dan menyakiti bumi, misalnya dalam bentuk membuang sampah sembarangan dan mengeksploitasi hutan, tanah dan air tanpa batas. Keadaan seperti ini telah menjadikan relasi dengan Allah, sesama manusia dan alam menjadi rusak. Melalui tema Paskah ini, Gereja-gereja di Indonesia didorong untuk membuka diri dan memberikan dirinya diperdamaikan dengan Allah. Pemulihan relasi dengan Allah – yang rusak oleh dosa manusia – menjadi pengharapan dan kekuatan baru bagi kita untuk memulihkan relasi kita dengan sesama dan dengan alam semesta. Dengan demikian, damai sejahtera dapat dirasakan oleh seluruh ciptaan. Pelayanan pendamaian ini mendorong kita untuk lebih mengembangkan Spiritualitas Keugaharian, yang diamanatkan oleh Sidang Raya PGI 2014 di Gunungsitoli, Nias, tatkala kita diajak untuk mensyukuri rahmat Allah yang cukup untuk semua dan bersedia berbagi dengan sesama.
Dalam suasana syukur dan sukacita Paskah, perkenankanlah kami mengajak kita semua sebagai Tubuh Kristus untuk mewujudnyatakan hal-hal berikut:
1. merendahkan diri di hadapan Allah dan membuka diri untuk menerima karya pendamaian Allah. Hal ini sejatinya kita wujudkan secara nyata dalam tindakan konkret untuk memperbaiki relasi-relasi yang telah rusak, baik relasi dengan sesama maupun dengan lingkungan. Marilah kita secara konsisten mengembangkan budaya damai dalam keluarga, gereja, masyarakat, dan dengan alam semesta, melalui pikiran, sikap hidup, kata dan perbuatan;
2. menjadikan gereja sebagai persekutuan yang saling mendengar, saling mengampuni, dan saling menyembuhkan agar kita mampu memenuhi panggilan kita secara optimal sebagai pelayan pendamaian di tengah masyarakat;
3. berperan aktif sebagai pelayan pendamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia dengan mendukung upaya-upaya penegakan kebenaran, hukum, dan keadilan serta mendorong diwujudkannya revolusi mental di kalangan seluruh warga bangsa demi hadirnya sebuah NKRI yang bersatu dan berkeadaban berdasarkan Pancasila dan UUD 45;
4. mengembangkan sikap hidup saling menghargai di tengah konteks masyarakat Indonesia yang majemuk, sehingga dialog yang jujur dan terbuka dapat mendukung tercapainya kerukunan antar kelompok yang berbeda;
5. mampu mengendalikan diri sehingga tidak terperangkap oleh gaya hidup konsumtif, materialistis dan hedonistis yang tidak jarang menggiring kita menyalahgunakan wewenang dan tanggungjawab yang dipercayakan kepada kita.
Selamat PASKAH, selamat menghayati peristiwa kebangkitan-Nya. Kebangkitan Kristus menghidupkan kita semua untuk terus berkarya tanpa lelah, sambil mengingat bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidak sia-sia (I Kor. 15:58).
Jakarta, Paskah 2016
Atas nama Majelis Pekerja Harian PGI

ttd

ttd
Pdt. Dr. Henriette T. H-Lebang
Ketua Umum
Pdt. Gomar Gultom
Sekretaris Umum

Selasa, 01 Desember 2015



Saudara-saudari umat Kristiani Indonesia,
Salam sejahtera dalam kasih Kristus.
Kita kembali merayakan Natal, peringatan kelahiran Yesus, Sang Juruselamat. Perayaan kedatangan-Nya selalu menghangatkan dan menguatkan pengharapan kita. Dalam perayaan ini kita menghayati kembali peristiwa kelahiran Yesus yang diwartakan dengan penuh sukacita oleh para malaikat kepada para gembala di padang Efrata, komunitas sederhana dan terpinggirkan pada zamannya (bdk. Luk. 2:8-12). Kiranya warta gembira para malaikat itu tetap menggema dalam kehidupan kita sampai saat ini dalam keadaan apapun.
Pada kesempatan istimewa ini, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengajak Anda semua untuk mensyukuri kehadiran Sang Juruselamat dengan merenungkan pesan tentang “Hidup Bersama sebagai Keluarga Allah.” Kita masing-masing ada dalam keluarga. Sementara itu keluarga kita berada bersama keluarga-keluarga lainnya dalam sebuah keluarga besar umat manusia. Namun juga kita sadari bahwa keluarga besar umat manusia mendiami bumi yang menjadi rumah kita bersama. Di bumi yang satu ini, kita ditempatkan oleh Tuhan bersama seluruh ciptaan lainnya. Di situlah kita hidup bersama sebagai keluarga Allah.
Kitab Kejadian 9:16 yang kita jadikan pijakan renungan mengatakan: “Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi”. Ayat ini menyatakan bahwa Allah membarui perjanjian-Nya, perjanjian keselamatan dengan seluruh ciptaan-Nya. Pelangi di awan menjadi lambang pengharapan kita. Peristiwa Natal mengingatkan kita kembali untuk ‘hidup sebagai keluarga Allah,’ yang dituntun oleh pelangi kasih-Nya yang meneguhkan iman dan menguatkan harapan.
Hidup bersama sebagai keluarga Allah mengandung pesan utama bahwa kita adalah satu keluarga. Sebagai anggota keluarga, kita masing-masing mempunyai tanggungjawab untuk menjadikan hidup bersama di bumi ini semakin baik; bukan hanya tanggung jawab untuk keselamatan manusia, tetapi juga untuk keutuhan seluruh ciptaan.
Bagaimana mewujudkan tanggungjawab itu dalam perutusan kita sebagai warga negara dan bangsa Indonesia? Pertama-tama, kita umat kristiani Indonesia dipanggil untuk berteguh hati melaksanakan tujuan Allah hadir di dunia, yaitu menciptakan keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan. Kita bertanggungjawab mewujudkan keluarga Allah yang damai, rukun, adil dan saling menerima dalam keberagaman. Kita perlu membangun kesadaran bersama bahwa setiap makhluk ciptaan Allah memiliki hak-hak dasar yang harus dihormati, hak hidup yang harus dilindungi, dan hak-hak orang perorangan serta bersama yang harus dipenuhi dan diwujudkan.
Demikian pula, kita diingatkan bahwa umat kristiani tidak hidup sendiri sebagai komunitas tertutup di dunia ini. Gereja hidup berdampingan dengan komunitas-komunitas lain. Perbedaan pandangan dan cara menjalani kehidupan, seringkali menimbulkan gesekan-gesekan bahkan konflik antar kelompok, golongan, ras/suku dan agama, sehingga hubungan antar umat dan antar warga menjadi kurang harmonis. Tidak sedikit orang menguras habis alam demi meraup keuntungan. Hal itu menyebabkan hubungan manusia dengan sesamanya dan dengan alam terganggu. Menjadi tugas kita bersama untuk memperbaiki relasi yang rusak itu. Kita harus mengupayakan terwujudnya bumi yang satu ini sebagai “rumah kita bersama”.
Sebagai warga bangsa kita juga diingatkan untuk bijaksana dalam menyikapi bentuk-bentuk gangguan sosial yang dapat mengancam persaudaraan, perdamaian, dan keamanan di Negara kita. Berbagai peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini di negeri kita, membangkitkan kesadaran dan niat baik kita untuk bersikap bijaksana. Penutupan dan pengrusakan rumah-rumah ibadah, termasuk yang mengakibatkan korban jiwa masih terjadi akibat perilaku kekerasan sekelompok orang yang bertindak atas nama agama. Di samping itu, kerusakan lingkungan terjadi, termasuk yang mengakibatkan musibah asap di berbagai wilayah Indonesia. Semua itu membuat relasi antar umat manusia dan alam menjadi terganggu, bahkan sudah makin rusak. Kita juga harus menjadi semakin bijaksana memperlakukan alam “Ibu Pertiwi” yang darinya kita semua memperoleh kebutuhan hidup sehari-hari. Kita dipanggil untuk menegaskan kembali ketetapan hati kita untuk melindungi dan mempertahankan keutuhan ciptaan di tengah budaya serakah yang melahirkan kemiskinan, ketidak-adilan, radikalisme dan kerusakan lingkungan. Kita perlu mengembangkan hidup sederhana dan jujur di tengah pengaruh globalisasi keserakahan dan ketidakpedulian ini.
Dengan mengembangkan spiritualitas keugaharian – melalui hidup sederhana – umat kristiani Indonesia mensyukuri rahmat Allah yang cukup untuk semua dan berupaya: mengendalikan diri dan berani mengatakan cukup; menyatakan kesediaan untuk hidup berbagi; dan berani berjuang bersama menentang segala sistem dan struktur yang menghalangi serta mengurangi hak orang lain untuk memperoleh kecukupan dalam hidupnya.
Dalam semangat kelahiran Yesus kita diajak untuk menanam, menyiram dan memelihara kehidupan semua makhluk ciptaan di bumi pertiwi ini, supaya semua makhluk dapat hidup bersama sebagai keluarga Allah dengan damai, adil dan bercukupan.
natal01
SELAMAT NATAL 2015 DAN TAHUN BARU 2016
Jakarta, 18 November 2015
Atas nama
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA                             KONFERENSI WALIGEREJA
DI INDONESIA (PGI)                                                INDONESIA (KWI)
Pdt. Dr. Henriette T.H-Lebang (Ketua Umum)     Mgr. Ignatius Suharyo (Ketua)
Pdt. Gomar Gultom (Sekretaris Umum)               Mgr. Antonius Subianto B (Sekretaris Jendral)
Sumber :http://pgi.or.id/pesan-natal-bersama-tahun-2015-pgi-dan-kwi

Rabu, 11 November 2015

TEMA NATAL PGI-KWI tahun 2015

(Keterangan gambar) Kelahiran mencerminkan sesuatu yang baru. Di dalamnya muncul kehidupan baru, harapan baru dan pemurnian kembali atas nilai hidup yang telah merosot. Kelahiran dipercaya behwa hadirnya bayi adalah simbol keberuntungan dan rezeki. Lukisan karya Andi Harisman ini dibuat pada malam Natal 1990. (Sumber: Beberapa Wajah Seni Rupa Kristiani Indonesia)
JAKARTA, PGI.OR.ID – Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) telah menetapkan bersama bahwa tema Natal pada Tahun 2015 ini adalah “Hidup Bersama Sebagai Keluarga Allah.” Tema ini diambil sesuai atau terinspirasi oleh makna yg terkandung dalam Kejadian 9:16.
Menjelaskan pilihan tema ini, Pendeta Gomar Gultom, Sekretaris Umum PGI mengatakan, “Tema tersebut hendak mengajak kita lebih inklusif. Kelahiran di kandang Betlehem mengindikasikan bukan hanya komunitas manusia yang ada di sana, tapi juga hewan pun hadir.”
Selanjutnya, Pendeta Gomar mengatakan bahwa pilihan tema ini selaras dengan pesan yang terkandung dalam Kejadian 9:16, yakni Allah membarui perjanjianNya, sebuah perjanjian keselamatan dengan seluruh ciptaanNya, segenap keluarga Allah.
Pendeta Gomar mengatakan Allah seringkali menggunakan gejala alam sebagai materai atas perjanjian tersebut, yakni pelangi. Dan pelangi kini menjadi simbol pengharapan.
“Peristiwa Natal mengingatkan kita kembali untuk ‘hidup sebagai keluarga Allah,’ yg dituntun oleh pelangi kasih,” tegas Pendeta Gomar Gultom.
Lebih lanjut, Pendeta Gomar mengatakan bahwa di tengah budaya kerakusan yang kini melanda dunia, yang melahirkan kemiskinan, ketidak-adilan, radikalisme dan kerusakan lingkungan, kita butuh mengembangkan spiritualitas keugaharian sebagai kontras terhadap globalisasi keserakahan ini.
Dengan spiritualitas keugaharian ini, menurut Gomar, PGI  dan KWI berharap agar warga gereja berupaya untuk: mengendalikan diri dan berani mengatakan cukup; menyatakan kesediaan untuk hidup berbagi, dan berani berjuang bersama menentang segala sistem dan struktur yang menghalangi orang lain untuk memperoleh kecukupan dalam hidupnya.
Sehingga, “dengan semangat tema Natal ini kita diajak untuk menanam dan menyiram bibit-bibit yang menopang kehidupan semua makhluk di bumi ini melalui spiritualitas keugaharian ini,” katanya menjelaskan.
Dan berdasarkan tema Natal tersebut, akan dibuat Pesan Natal Bersama 2015 PGI dan KWI. “Pesan Natal 2015 tersebut akan terbit pertengahan Nopember 2015″, kata Gomar menutup pembicaraan.
Sumber : http://pgi.or.id/tema-natal-pgi-dan-kwi-2015

Senin, 10 Agustus 2015

Foto-Foto Sidang VII Jemaat GKI I.S. Kijne Abepura


Inilah foto-foto Sidang VII jemaat GKI I.S. Kijne yang telah berlangsung beberapa waktu yang lalu, tepatnya tanggal 15 Maret 2015


Pembukaan Sidang oleh anggota BP Klasis GKI Jayapura  (Pdt. U. Rumbino, S. Th.)


Penyerahan palu sidang dari ketua panitia sidang (Sdr. I. Rumayom) kepada pimpinan Sidang (Pdt. Th. Koibur, M.Si. Teol.)


Penyematan tanda peserta sidang


Pimpinan sidang dan majelis jemaat GKI I.S. Kijne Abepura



Para peserta Sidang Jemaat


Penutupan Sidang oleh BP Klasis Jayapura

Sabtu, 14 Maret 2015


Diskusi dalam rangka HUT PI ke 160 di Tanah Papua
Tema : "GKI di Tanah Papua dulu, sekarang dan akan datang" 
Minggu, 1 Februari 2015 

Pemateri :
                                                    1.  Pdt. Hermann Saud, M.Th
                                                    2.  Pdt. Dr. Martha Wospakrik, M.Th
                                                    3.  Pnt. M. F. Kareth, SH., M.H.
                                                                         Moderator :
                                                                    Fransina Yoteni, Ph.D









Jumat, 03 Oktober 2014

TEMA NATAL PGI DAN KWI TAHUN 2014

Sumber :http://www.pgi.or.id

Rabu, 16 April 2014

Pesan PASKAH PGI 2014



PESAN PASKAH 2014
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA

Tema:
“Kebangkitan-Nya Memulihkan Kehidupan” (Bdk. Filipi 3:10-11)

Umat Kristiani yang terkasih di manapun berada,
Salam sejahtera dalam kasih Tuhan Yesus Kristus,
  1. Pada waktu kita kini sedang mengalami berbagai malapetaka alam: letusan Gunung Sinabung dan Gunung Kelud, banjir bandang di Manado dan tempat-tempat lainnya, kita kembali menyambut masa Paskah Kristus Yesus. Sejatinya Paskah adalah titik kulminasi kemenangan Yesus Kristus atas maut, ketika kuasa dosa telah dikalahkan oleh Kebangkitan-Nya. Paskah senantiasa menghadirkan suasana dan semangat sukacita bagi seluruh umat yang telah ditebus oleh kuasa kebangkitan-Nya itu. Paskah, sebagai fakta dalam sejarah umat manusia, memberikan pengharapan di tengah-tengah berbagai ketidakpastian dan kekuatiran. Hal itu ditegaskan dalam kalimat Rasul Petrus berikut: “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan” (1 Petrus 1:3).
  2. Maka, menyambut Paskah 2014 ini, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia mengangkat tema “Kebangkitan-Nya Memulihkan Kehidupan” (bdk. Filipi 3:10-11).

Selasa, 25 Maret 2014

Pesan Pastoral MPH-PGI untuk PiLeg 2014


Tahun 2014 adalah Tahun Politik, sebab pada tahun ini akan berlangsung 2 (dua) Pemilihan Umum (Pemilu), yaitu Pemilu Legislatif untuk memilih Anggota DPR, DPD dan DPRD pada 9 April 2014 dan Pemilu Presiden pada 9 Juli 2014. PGI sebagai lembaga keumatan yang menaungi sebagian besar gereja-gereja di Indonesia, menyampaikan Pesan Pastoral kepada segenap umat Kristen di Indonesia agar berpartisipasi dalam Pemilu 2014. selengkapnya Pesan Pastoral dari Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia sebagai berikut:
Tolak Politik Uang, Pilihlah dengan Hati Nurani dan Jangan Golput!
Saudara-saudara Umat Kristiani di Indonesia,
Tahun 2014 adalah Tahun Politik, sebab pada tahun ini akan berlangsung 2 (dua) Pemilihan Umum (Pemilu), yaitu Pemilu Legislatif untuk memilih Anggota DPR, DPD dan DPRD pada 9 April 2014 dan Pemilu Presiden pada 9 Juli 2014. Hasil kedua Pemilu tersebut akan mengganti seluruh anggota parlemen dan mengganti Presiden dan Wakil Presiden kita. Dalam menyambut dua peristiwa penting itu, maka ruang publik kita selama tahun ini akan diisi oleh berbagai wacana dan informasi politik untuk mewarnai dan memaknai pelaksanaan Pemilu 2014 ini. Tentu ada wacana dan informasi yang membangun dan mencerdaskan, namun ada juga yang bersifat pembodohan dan penggiringan opini. Karena itu, sebagai warga negara, kita perlu lebih hati-hati dan cermat dalam mencerna semua itu agar kita tidak terjerumus dalam pemaknaan yang keliru tentang Pemilu. Kita hendaknya tidak mudah terpengaruh oleh bujuk rayu dan pencitraan yang makin masif menghampiri kita.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Pemilu selalu menjadi peristiwa penting yang menarik bagi setiap warga negara. Pemilu juga selalu memiliki makna eksistensial bagi sebuah negara, sebab Pemilu adalah mekanisme pendelegasian kedaulatan rakyat kepada mereka yang hendak memegang kekuasaan di pemerintahan. Pemilu juga adalah mekanisme pergantian pemegang kekuasaan secara periodik dan tertib. Dan dalam konteks Indonesia yang majemuk, Pemilu juga menjadi penting sebagai mekanisme pemindahan berbagai macam perbedaan dan pertentangan kepentingan dari masyarakat ke dalam lembaga legislatif dan eksekutif untuk dibahas dan diputuskan secara terbuka dan beradab. Dalam pengertian ini maka Pemilu merupakan kanalisasi konflik dan perbedaan yang ada dalam masyarakat. Dengan demikian, Pemilu tidak hanya sekedar bahwa setiap warga negara akan secara langsung menyalurkan hak politiknya untuk menentukan para pimpinan negara, tapi juga menjadi momentum dimana rakyat menaruh harapan akan adanya perubahan dan perbaikan kehidupannya ke arah yang lebih baik. Bahkan Pemilu bisa menjadi alat kontrol dan kritik rakyat secara langsung bagi jalannya kekuasaan pemerintahan.
Namun demikian, kami menyadari bahwa Pemilu tahun ini berlangsung dalam suasana sosial politik yang sulit, yang membuat rakyat makin pesimis dan apatis terhadap Pemilu itu sendiri. Korupsi berlangsung di mana-mana, yang dilakukan oleh para pengurus partai politik, para pejabat dan para pemimpin bangsa, yang dipilih dalam Pemilu. Para pemimpin politik kita dengan rakus dan tanpa malu memanfaatkan posisi istimewa mereka untuk mengeruk habis harta kekayaan negara bagi kepentingan mereka sendiri dan partainya. Para anggota DPR pun lebih banyak memperjuangkan kepentingannya sendiri dan kelompoknya, ketimbang mendahulukan kepentingan rakyat banyak. Begitu pula, para pimpinan lembaga eksekutif, lebih sibuk dengan urusan pribadi dan keluarganya ketimbang mengurus rakyat. Semua ini berlangsung di depan mata rakyat, seolah tak ada yang salah dan tanpa bisa dihentikan, minimal sebelum pejabat bersangkutan masuk bui. Akibatnya rakyat menjadi kecewa, marah dan muak dengan para politisi sehingga cenderung malas untuk berpartisipasi dalam Pemilu. Situasi ini yang membuat mengapa pembangunan demokrasi kita seakan berjalan di tempat dan sulit mendapatkan makna substansialnya. Demokrasi kita dibajak oleh perilaku korup dan rakus para elit politik.
Bersamaan dengan itu, muncul pula sejumlah pertanyaan elementer yang terasa sulit untuk dijawab. Apakah sebenarnya demokrasi itu? Apa pentingnya demokrasi bagi kita? Untuk apa kita berdemokrasi? Masih adakah masa depan demokrasi di negeri yang pluralistik ini? Bagaimana pula perspektif demokrasi (Pancasila) yang diharapkan? Kalau demokrasi itu adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, mengapa kemudian rakyat dan warga masyarakat menjadi skeptis dan apatis terhadap praktek berdemokrasi itu sekarang ini? Mengapa demokrasi tidak menghasilkan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat? Mengapa tatanan kehidupan politik nasional semakin diwarnai dengan kekerasan dan anarkis dalam proses demokrasi sekarang ini? Apa yang salah dengan demokrasi kita? Demikian juga, Pemilu sebagai salah satu elemen penting demokrasi terasa seolah makin tak penting lagi. Kalau begitu, apa pentingnya Pemilu bagi kita sekarang?
Mengapa Harus Memilih?
Dalam kondisi seperti itu, memang sangatlah sulit untuk meyakinkan dan membangun optimisme rakyat untuk ikut berpartisipasi dalam Pemilu. Namun demikian, kami merasa bahwa ikut berpartisipasi dalam Pemilu tetap penting. Justru menjadi semakin penting di tengah apatisme rakyat yang semakin tinggi. Karena itu, Sidang MPL PGI 2014 di Merauke, Papua, menganjurkan agar warga gereja ikut secara aktif berpartisipasi dalam Pemilu 2014 dan tidak “golput.” Setidaknya ada 4 (empat) alasan yang bisa dikemukakan, yaitu:

Senin, 03 Maret 2014

Kegiatan HUT PI ke 159 di Tanah Papua (Manokwari, 3-7 Februari 2014)
selengkapnya klik:
http://tripwow.tripadvisor.com/tripwow/ta-080d-c92a-04e2?ln





Minggu, 02 Maret 2014

Minggu Sengsara I (Esto Mihi : "Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan"_ Mazmur 31:3b)

Enam hari setelah pemberitahuan tentang penderitaan Anak Manusia itu, Yesus membawa tiga murid inti ke sebuah gunung. Gunung apa namanya? Ada yang mengatakan gunung Tabor adapula yang mengatakan gunung Hermon. Tidak banyak gunanya kalaupun kita mengetahui nama dan letak gunung itu. Fokus perhatian kita bukan nama dan letak gunung, tetapi apa yang terjadi di sana. Dalam 2 Petrus 1:18 disebut ‘gunung yang kudus’, barangkali gunung yang dimaksudkan adalah gunung di tepi timur danau Galilea, di sebelah selatan Betsaida, yang sering di sebut dalam kitab Injil. Yesus sering menyingkir ke gunung itu, bahkan khotbah di bukit kemungkinan besar disampaikan di sana. Perbedan waktu juga terjadi. Dalam Injil Lukas disebut sesudah delapan hari (9:28). Kita memahaminya demikian: setelah enam hari sejak pemberitahuan itu, pada hari yang ketujuh, Yesus membawa murid ke gunung. Perjalanan ini mungkin membutuhkan waktu sehari penuh. Mereka beristirahat dan pada pagi harinya, yakni hari kedelapan Yesus membawa mereka ke puncak. Lukas menghitung waktunya secara keseluruhan, sementara Matius dan Markus tidak menghitung waktu perjalanannya.
Mereka sendirian saja, demikian Markus menjelaskan suasana perjalanan itu. Hal itu memberi kesan bahwa memang peristiwa yang terjadi nanti, tidak dilihat dan diketahui oleh orang lain, selain mereka bertiga. Peristiwa yang terjadi hanya diketahui mereka maka saksi dari peristiwa itu juga hanya mereka tiga. Kalaupun peristiwa itu akhirnya terekam dalam catatan penulis Injil Markus, tentunya setelah peristiwa kebangkitan. Itu sesuai dengan perintah Yesus sendiri agar mereka tidak memberitahukan peristiwa itu (9:9).
Perjalanan menuju puncak gunung itu barangkali melelahkan. Para murid tidur, sementara Yesus berdoa (bnd. Lukas 9:26). Ketika berdoa, wajah Yesus berubah, penuh cahaya dan pakaiannya putih berkilau-kilau. Untuk menggambarkan pemandangan unik ini, Injil Markus mencoba menjelaskan bahwa tidak seorang pun yang dapat mengelantang pakaian seperti itu. Kesan ini memberi makna bahwa yang terjadi pada Yesus bukan karena pakaiannya. Ada sesuatu yang lain terjadi padanya, bukan berasal dari dunia, tetapi sesuatu yang dari ‘luar’ menaungi diriNya. Pengetahuan kita mengenai alam baka terbatas, sehingga kita tidak dapat memahami dengan baik peristiwa ini. Yang jelas, Yesus penuh cahaya menyilaukan.

Kamis, 04 Juli 2013

Pokja Peduli Lingkungan Gki I.S. Kijne Slideshow Slideshow

Untuk melihat selengkapnya klik di sini: 
Pokja Peduli Lingkungan Gki I.S. Kijne Slideshow Slideshow: TripAdvisor™ TripWow ★ Pokja Peduli Lingkungan Gki I.S. Kijne Slideshow Slideshow ★ to Jayapura.


Sabtu, 29 Juni 2013

Review Film

 

Seven Days In Utopia



Penulis: Peduligereja.com
Film yang berjudul Seven Days In Utopia ini dibuka dengan kutipan Yesaya 30:21, "dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: "Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya," entah kamu menganan atau mengiri." Film yang sarat dengan nilai-nilai Kristiani ini dibintangi oleh Robert Duvall dan Lucas Black.
Film ini menceritakan tentang seorang pemuda bernama Luke Chisolm (Lucas Black), seorang pemain golf yang mudah marah. Luke merasa tertekan dan putus asa karena ayahnya terobsesi agar dirinya menjadi pemain golf yang hebat.
Namun hari itu, di dalam turnamen Texas Open, Luke mengacaukan segalanya, permainnannya buruk di hole terakhir dan membuat ayahnya kesal. Dalam kemarahannya itu, Luke mengendarai mobil dan hampir mengalami kecelakaan mobil di dekat peternakan milik Johnny Crawford (Robert Duvall). Johnny akhirnya merangkul Luke dan mengatakan bahwa bukan karena suatu kebetulan dirinya bisa sampai di peternakannya. Luke akhirnya di ajak oleh Johnny ke sebuah kota kecil bernama Utopia yang populasi penduduknya hanya 575 orang.
Bersama Johnny, Luke diajar bagaimana bermain golf dengan baik. Tidak hanya itu, di Utopia tersebut, Luke mendapatkan pemahaman akan pentingnya keluarga, persahabatan, iman dan kasih. Pada dasarnya, dicerita ini Luke menemukan Kristus, pergi ke gereja, membaca Alkitab, dan memahami bahwa dalam hidup ini ada yang lebih penting selain golf.
Film yang dirilis di Amerika pada 2 September 2011 lalu ini dipastikan sangat menginspirasi dan berbobot. Secara keseluruhan, film ini bisa dikatakan menceritakan tentang pertobatan dimana si pahlawan akhirnya menerima Kristus sebagai juru selamatnya serta proses bagaimana dia bisa mengampuni sang ayah. Hal ini yang membedakan film ini, dari kebanyakan film yang dirilis di tahun 2011 ini, sekalipun bukan film superhero, film Seven Days In Utopia ini menunjukkan siapa "hero" itu sesungguhnya. Namun apakah film ini akan masuk ke pasar Indonesia? Jika melihat dari pesan yang tersirat dalam film ini, kemungkinan besar pengimpor film Indonesia ini tidak akan melirik film yang satu ini. Jadi jika Anda ingin menonton film satu ini, bersabarlah dan tunggu fersi DVD-nya dirilis. Oh ya, pastikan Anda membeli DVD original ya.