Seribu kata ‘mengapa’. Seribu keheningan adalah jawaban.
Tidak ada orang yang mau bermimpi menguburkan dia yang dikasihi. Tapi ketika
itu harus dijalani, hanya satu kata yang berulang kali terucap di mulut kita:
mengapa. Mengapa saya? Mengapa keluarga saya? Mengapa dia? Saat kita tidak
menemukan alasan, kepedihan akan semakin dalam. Karena kita sudah demikian
tergantung pada ‘logika kematian’. Kita hanya bisa menerima kematian yang
‘masuk akal’saja. Yang tidak masuk akal, kita pertanyakan, kita ratapi, kita
teriaki. Seruan kita terdengar ‘seperti’ seruan Yesus di kayu salib, “Allahku,
Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mrk 15:34). ‘Seperti’, karena tak
sama…
Mari
kita merenung, benarkah Tuhan meninggalkan kita di saat kematian orang-orang
terkasih?