Senin, 29 Februari 2016

PESAN PASKAH 2016 PGI




PESAN PASKAH 2016 

PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA


Tema: “KRISTUS BANGKIT: BERILAH DIRIMU
DIPERDAMAIKAN”
(2 Kor.5:20b)

Umat Kristiani terkasih di manapun Saudara berada.
Salam Sejahtera dalam Yesus Kristus,
“Kristus bangkit! Ya benar, Kristus telah bangkit!”, demikianlah seruan optimistis umat Kristen pada periode mula-mula yang suaranya tetap bergema hingga zaman ini. Kebangkitan Kristus adalah kesaksian iman orang percaya yang mengawali hadirnya gereja dan bahkan mendorong pelayanan dan kesaksian gereja sepanjang masa. Iman kepada Kristus yang bangkit menjadi harapan yang terus menerus mengobarkan semangat gereja untuk mengarungi samudera kehidupan dengan keberanian.
Dalam suasana penuh sukacita memperingati hari raya Paskah, umat Kristen di Indonesia, bahkan di seluruh dunia, diingatkan ulang bahwa kematian dan kebangkitan Kristus adalah prakarsa Allah dalam mendamaikan kita dengan diri-Nya, dan dengan demikian telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kita (2 Kor. 5:18). Karya pendamaian tersebut merangkumi hubungan Allah dengan manusia dan dengan alam semesta (Kol. 1:20). Artinya, keselamatan itu tidak hanya berlaku bagi manusia, tetapi juga bagi seluruh alam semesta. Semua dilakukan-Nya dalam kasih-Nya yang tidak membiarkan manusia dan seluruh ciptaan-Nya binasa.
Paskah selalu membangkitkan pengharapan, kekuatan dan semangat baru bagi kita untuk memberikan diri kita diperdamaikan oleh Allah, dan berdasarkan realita itu, kita dimampukan untuk melanjutkan perjalanan hidup secara harmonis bersama Tuhan, maupun bersama dengan sesame dalam masyarakat, dan dengan seluruh makhluk ciptaan.
Tema “KRISTUS BANGKIT: BERILAH DIRIMU DIPERDAMAIKAN” (2Kor.5:20b) sangat relevan dengan pergumulan Gereja-gereja di Indonesia yang saat ini tengah menghadapi berbagai perubahan dan dinamika. Gereja berada di tengah masyarakat majemuk yang sedang mengalami perubahan yang cepat. Banyak hal menggembirakan yang telah dicapai di tengah perubahan tersebut. Namun tak sedikit juga keprihatinan yang kita hadapi. Salah satu keprihatinan utama adalah konflik yang semakin merebak di tengah masyarakat, yang pada gilirannya merusak relasi antar manusia dan relasi manusia dengan alam. Ada cukup banyak orang yang berjuang keras mengusahakan kepentingan dan kenyamanan pribadi atau kelompoknya, dengan mengabaikan kepentingan orang lain dan acap mengeksploitasi alam tanpa batas. Realitas ini sangat potensial merusak damai sejahtera dalam masyarakat.
Kecenderungan sedemikian juga terjadi di tengah-tengah kehidupan dan pelayanan gereja. Ada gereja-gereja yang mengalami ketidak-harmonisan bahkan perpecahan, karena rusaknya relasi antar warga yang satu dengan yang lain. Pasang-surut relasi kehidupan beragama di Indonesia, sebagaimana peristiwa yang senantiasa berulang pada akhirakhir ini, juga menunjukkan bahwa ada kecenderungan dan keengganan untuk mendengarkan dan memahami berbagai kelompok yang hidup dalam masyarakat. Gaya hidup yang semakin konsumtif tidak jarang menjauhkan manusia yang satu dari yang lain dan menyakiti bumi, misalnya dalam bentuk membuang sampah sembarangan dan mengeksploitasi hutan, tanah dan air tanpa batas. Keadaan seperti ini telah menjadikan relasi dengan Allah, sesama manusia dan alam menjadi rusak. Melalui tema Paskah ini, Gereja-gereja di Indonesia didorong untuk membuka diri dan memberikan dirinya diperdamaikan dengan Allah. Pemulihan relasi dengan Allah – yang rusak oleh dosa manusia – menjadi pengharapan dan kekuatan baru bagi kita untuk memulihkan relasi kita dengan sesama dan dengan alam semesta. Dengan demikian, damai sejahtera dapat dirasakan oleh seluruh ciptaan. Pelayanan pendamaian ini mendorong kita untuk lebih mengembangkan Spiritualitas Keugaharian, yang diamanatkan oleh Sidang Raya PGI 2014 di Gunungsitoli, Nias, tatkala kita diajak untuk mensyukuri rahmat Allah yang cukup untuk semua dan bersedia berbagi dengan sesama.
Dalam suasana syukur dan sukacita Paskah, perkenankanlah kami mengajak kita semua sebagai Tubuh Kristus untuk mewujudnyatakan hal-hal berikut:
1. merendahkan diri di hadapan Allah dan membuka diri untuk menerima karya pendamaian Allah. Hal ini sejatinya kita wujudkan secara nyata dalam tindakan konkret untuk memperbaiki relasi-relasi yang telah rusak, baik relasi dengan sesama maupun dengan lingkungan. Marilah kita secara konsisten mengembangkan budaya damai dalam keluarga, gereja, masyarakat, dan dengan alam semesta, melalui pikiran, sikap hidup, kata dan perbuatan;
2. menjadikan gereja sebagai persekutuan yang saling mendengar, saling mengampuni, dan saling menyembuhkan agar kita mampu memenuhi panggilan kita secara optimal sebagai pelayan pendamaian di tengah masyarakat;
3. berperan aktif sebagai pelayan pendamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia dengan mendukung upaya-upaya penegakan kebenaran, hukum, dan keadilan serta mendorong diwujudkannya revolusi mental di kalangan seluruh warga bangsa demi hadirnya sebuah NKRI yang bersatu dan berkeadaban berdasarkan Pancasila dan UUD 45;
4. mengembangkan sikap hidup saling menghargai di tengah konteks masyarakat Indonesia yang majemuk, sehingga dialog yang jujur dan terbuka dapat mendukung tercapainya kerukunan antar kelompok yang berbeda;
5. mampu mengendalikan diri sehingga tidak terperangkap oleh gaya hidup konsumtif, materialistis dan hedonistis yang tidak jarang menggiring kita menyalahgunakan wewenang dan tanggungjawab yang dipercayakan kepada kita.
Selamat PASKAH, selamat menghayati peristiwa kebangkitan-Nya. Kebangkitan Kristus menghidupkan kita semua untuk terus berkarya tanpa lelah, sambil mengingat bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidak sia-sia (I Kor. 15:58).
Jakarta, Paskah 2016
Atas nama Majelis Pekerja Harian PGI

ttd

ttd
Pdt. Dr. Henriette T. H-Lebang
Ketua Umum
Pdt. Gomar Gultom
Sekretaris Umum

Selasa, 01 Desember 2015



Saudara-saudari umat Kristiani Indonesia,
Salam sejahtera dalam kasih Kristus.
Kita kembali merayakan Natal, peringatan kelahiran Yesus, Sang Juruselamat. Perayaan kedatangan-Nya selalu menghangatkan dan menguatkan pengharapan kita. Dalam perayaan ini kita menghayati kembali peristiwa kelahiran Yesus yang diwartakan dengan penuh sukacita oleh para malaikat kepada para gembala di padang Efrata, komunitas sederhana dan terpinggirkan pada zamannya (bdk. Luk. 2:8-12). Kiranya warta gembira para malaikat itu tetap menggema dalam kehidupan kita sampai saat ini dalam keadaan apapun.
Pada kesempatan istimewa ini, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengajak Anda semua untuk mensyukuri kehadiran Sang Juruselamat dengan merenungkan pesan tentang “Hidup Bersama sebagai Keluarga Allah.” Kita masing-masing ada dalam keluarga. Sementara itu keluarga kita berada bersama keluarga-keluarga lainnya dalam sebuah keluarga besar umat manusia. Namun juga kita sadari bahwa keluarga besar umat manusia mendiami bumi yang menjadi rumah kita bersama. Di bumi yang satu ini, kita ditempatkan oleh Tuhan bersama seluruh ciptaan lainnya. Di situlah kita hidup bersama sebagai keluarga Allah.
Kitab Kejadian 9:16 yang kita jadikan pijakan renungan mengatakan: “Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi”. Ayat ini menyatakan bahwa Allah membarui perjanjian-Nya, perjanjian keselamatan dengan seluruh ciptaan-Nya. Pelangi di awan menjadi lambang pengharapan kita. Peristiwa Natal mengingatkan kita kembali untuk ‘hidup sebagai keluarga Allah,’ yang dituntun oleh pelangi kasih-Nya yang meneguhkan iman dan menguatkan harapan.
Hidup bersama sebagai keluarga Allah mengandung pesan utama bahwa kita adalah satu keluarga. Sebagai anggota keluarga, kita masing-masing mempunyai tanggungjawab untuk menjadikan hidup bersama di bumi ini semakin baik; bukan hanya tanggung jawab untuk keselamatan manusia, tetapi juga untuk keutuhan seluruh ciptaan.
Bagaimana mewujudkan tanggungjawab itu dalam perutusan kita sebagai warga negara dan bangsa Indonesia? Pertama-tama, kita umat kristiani Indonesia dipanggil untuk berteguh hati melaksanakan tujuan Allah hadir di dunia, yaitu menciptakan keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan. Kita bertanggungjawab mewujudkan keluarga Allah yang damai, rukun, adil dan saling menerima dalam keberagaman. Kita perlu membangun kesadaran bersama bahwa setiap makhluk ciptaan Allah memiliki hak-hak dasar yang harus dihormati, hak hidup yang harus dilindungi, dan hak-hak orang perorangan serta bersama yang harus dipenuhi dan diwujudkan.
Demikian pula, kita diingatkan bahwa umat kristiani tidak hidup sendiri sebagai komunitas tertutup di dunia ini. Gereja hidup berdampingan dengan komunitas-komunitas lain. Perbedaan pandangan dan cara menjalani kehidupan, seringkali menimbulkan gesekan-gesekan bahkan konflik antar kelompok, golongan, ras/suku dan agama, sehingga hubungan antar umat dan antar warga menjadi kurang harmonis. Tidak sedikit orang menguras habis alam demi meraup keuntungan. Hal itu menyebabkan hubungan manusia dengan sesamanya dan dengan alam terganggu. Menjadi tugas kita bersama untuk memperbaiki relasi yang rusak itu. Kita harus mengupayakan terwujudnya bumi yang satu ini sebagai “rumah kita bersama”.
Sebagai warga bangsa kita juga diingatkan untuk bijaksana dalam menyikapi bentuk-bentuk gangguan sosial yang dapat mengancam persaudaraan, perdamaian, dan keamanan di Negara kita. Berbagai peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini di negeri kita, membangkitkan kesadaran dan niat baik kita untuk bersikap bijaksana. Penutupan dan pengrusakan rumah-rumah ibadah, termasuk yang mengakibatkan korban jiwa masih terjadi akibat perilaku kekerasan sekelompok orang yang bertindak atas nama agama. Di samping itu, kerusakan lingkungan terjadi, termasuk yang mengakibatkan musibah asap di berbagai wilayah Indonesia. Semua itu membuat relasi antar umat manusia dan alam menjadi terganggu, bahkan sudah makin rusak. Kita juga harus menjadi semakin bijaksana memperlakukan alam “Ibu Pertiwi” yang darinya kita semua memperoleh kebutuhan hidup sehari-hari. Kita dipanggil untuk menegaskan kembali ketetapan hati kita untuk melindungi dan mempertahankan keutuhan ciptaan di tengah budaya serakah yang melahirkan kemiskinan, ketidak-adilan, radikalisme dan kerusakan lingkungan. Kita perlu mengembangkan hidup sederhana dan jujur di tengah pengaruh globalisasi keserakahan dan ketidakpedulian ini.
Dengan mengembangkan spiritualitas keugaharian – melalui hidup sederhana – umat kristiani Indonesia mensyukuri rahmat Allah yang cukup untuk semua dan berupaya: mengendalikan diri dan berani mengatakan cukup; menyatakan kesediaan untuk hidup berbagi; dan berani berjuang bersama menentang segala sistem dan struktur yang menghalangi serta mengurangi hak orang lain untuk memperoleh kecukupan dalam hidupnya.
Dalam semangat kelahiran Yesus kita diajak untuk menanam, menyiram dan memelihara kehidupan semua makhluk ciptaan di bumi pertiwi ini, supaya semua makhluk dapat hidup bersama sebagai keluarga Allah dengan damai, adil dan bercukupan.
natal01
SELAMAT NATAL 2015 DAN TAHUN BARU 2016
Jakarta, 18 November 2015
Atas nama
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA                             KONFERENSI WALIGEREJA
DI INDONESIA (PGI)                                                INDONESIA (KWI)
Pdt. Dr. Henriette T.H-Lebang (Ketua Umum)     Mgr. Ignatius Suharyo (Ketua)
Pdt. Gomar Gultom (Sekretaris Umum)               Mgr. Antonius Subianto B (Sekretaris Jendral)
Sumber :http://pgi.or.id/pesan-natal-bersama-tahun-2015-pgi-dan-kwi